Eka Teresia S.Pd, M.M | Penulis
NEGERI NEWS
Mengapa Kita Harus Belajar “Seni Bertahan” dari Belanda dan Swedia?
Pernahkah kita membayangkan terbangun di pagi hari, menekan sakelar lampu namun gelap tetap menyelimuti, lalu saat meraih ponsel, sinyal telah menguap menjadi nol? Tak ada WhatsApp, tak ada m-banking, bahkan ATM di ujung jalan hanya menjadi kotak besi tak berguna. Skenario yang terdengar seperti film distopia ini baru saja menjadi kenyataan pahit di Iran dan mulai diantisipasi secara serius oleh negara maju seperti Belanda.
Langkah Pemerintah Belanda mengirimkan instruksi “Denk Vooruit” ke 8,5 juta rumah bukan sekadar formalitas birokrasi. Ini adalah pengakuan jujur bahwa di hadapan Cyber Polygon—sebuah ancaman nyata di mana infrastruktur digital global bisa lumpuh seketika—negara sehebat apa pun tidak akan mampu hadir di setiap pintu rumah dalam 72 jam pertama.
Paradigma “Zelfredzaamheid”: Mandiri atau Mati
Filosofi Belanda sangat jelas: Zelfredzaamheid atau kemandirian. Mereka tidak lagi menjanjikan bantuan instan, melainkan meminta warga menjadi “benteng pertama” bagi keluarga mereka sendiri. Di Indonesia, kita sering terjebak dalam mentalitas “nanti juga dibantu.” Namun, dalam krisis total, bantuan seringkali terhambat oleh macetnya logistik dan komunikasi.
Swedia: Sang Pelopor Kesiagaan Total.
Jika Belanda fokus pada 72 jam, Swedia melangkah lebih jauh. Pemerintah Swedia menerbitkan buklet “If Crisis or War Comes”. Berbeda dengan narasi pasif, Swedia menekankan bahwa setiap warga adalah bagian dari pertahanan nasional. Mereka tidak hanya menyarankan stok makanan, tetapi juga melatih warga mendeteksi disinformasi digital yang biasanya menyertai lumpuhnya internet.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Kita hidup di era di mana perang tidak lagi hanya soal peluru, tapi soal pulsa dan daya listrik. Ketika “badai digital” melanda, uang tunai kembali menjadi raja, dan radio engkol menjadi satu-satunya jendela informasi. Mempersiapkan Noodpakket (tas siaga) bukan tanda ketakutan, melainkan tanda kecerdasan.
Menjadi siap adalah bentuk paling elegan dari rasa sayang kepada keluarga. Kita tidak perlu menunggu pemerintah bergerak jika kita sudah memiliki “payung” sebelum badai benar-benar meruntuhkan menara-menara BTS kita. Jangan biarkan diri kita menjadi beban saat krisis; jadilah warga yang tangguh, mandiri, dan berkelas