WhatsApp Image 2026-01-14 at 20.18.29
“Ketika Literasi Berbicara: Puisi dan Poster Siswa Gaungkan Gerakan Anti-Bullying”

Suara Hati Siswa Menggema di Lapangan Sekolah, Puisi dan Poster Anti-Bullying Jadi Seruan Kemanusiaan

Lapangan sekolah hari itu tak sekadar menjadi ruang upacara atau tempat berkumpul. Ia menjelma menjadi panggung suara hati siswa, tempat kata-kata dan gambar berbicara lantang tentang empati, keberanian, dan harapan. Melalui karya puisi dan poster bertema Gerakan Anti-Bullying, para siswa menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang kepekaan nurani dan keberanian bersuara.

Deretan poster penuh warna dan puisi bermakna dipajang rapi, menyita perhatian siapa pun yang melintas. Di balik setiap goresan pensil, pilihan warna, dan rangkaian kata, tersimpan kisah tentang kegelisahan, kepedulian, serta mimpi akan lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi semua. Kalimat seperti “Stop Bullying”, “Mari Saling Peduli”, hingga ungkapan empati yang menyentuh hati menjadi pesan kuat yang tak bisa diabaikan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi sekolah, yang mendorong siswa menuangkan ide, perasaan, dan pandangan mereka terhadap isu nyata di sekitar. Dengan menulis puisi dan merancang poster, siswa tidak hanya mengasah kemampuan literasi membaca dan menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis, berkomunikasi secara visual, serta menyampaikan pesan sosial secara santun dan bermakna.

Lebih dari sekadar pameran karya, kegiatan ini menjadi gerakan bersama. Karya-karya yang dipajang di lapangan sekolah menjadi pengingat kolektif bahwa bullying bukan candaan, bukan tradisi, dan bukan hal sepele. Ia adalah luka, dan setiap luka perlu dihentikan sebelum semakin dalam.

Melalui literasi, siswa belajar bahwa kata-kata bisa menyembuhkan, gambar bisa menyadarkan, dan karya bisa mengubah cara pandang. Sekolah pun kembali menegaskan perannya sebagai ruang tumbuh yang aman, tempat setiap siswa dihargai, didengar, dan dilindungi.

Dari lapangan sekolah, pesan itu bergema:
Kami menolak bullying. Kami memilih empati. Kami bergerak melalui literasi.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait