Oleh : Eka Teresia
Dalam ekosistem sosial, komunitas bukanlah panggung transaksi yang diukur dengan rumus untung dan rugi. Ia adalah wadah bagi jiwa-jiwa yang memilih untuk bertugas dengan ketulusan. Anggota sejati dalam sebuah komunitas sosial adalah mereka yang bergerak dengan ikhlas, memberikan waktu dan energi tanpa pernah menanti imbalan materi di ujung pengabdiannya.
Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap realita bahwa sebagian orang bekerja hanya karena mengharap upah. Bagi mereka, pergerakan hanyalah soal timbal balik; jika sebuah aktivitas dianggap tidak lagi menguntungkan secara personal, mereka akan memilih untuk berhenti. Motivasi yang berpijak pada materi bersifat rapuh, karena ia akan layu saat ekspektasi tidak terpenuhi.
Di sinilah keikhlasan memegang peranan krusial. Keikhlasan memang tidak nampak secara fisik; ia bersemayam di dalam palung hati yang paling dalam. Namun, meski tersembunyi, ia memiliki kekuatan untuk mengubah takdir. Bagi pribadi yang menjaga ketulusan, jalan hidupnya akan selalu dipermudah oleh semesta dengan cara-cara yang tak terduga.
Semangat ini juga mencakup karya-karya yang kita lahirkan, termasuk setiap tulisan yang kita buat. Menyusun sebuah gagasan bukanlah perkara mudah; ia menuntut pengorbanan waktu dan daya pikir yang luar biasa. Namun, jika diniatkan dengan benar, setiap kalimat yang kita susun adalah lahan ibadah.
Kebaikan yang kita sampaikan melalui tulisan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama ide tersebut memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, marilah kita terus menanam kebaikan dalam bentuk apa pun. Kebaikan tidak melulu soal donasi materi atau bantuan fisik. Goresan penamu, pemikiranmu, dan kepedulianmu adalah bentuk nyata dari sebuah kontribusi sosial. Mari menulis dan mengabdi dengan hati, karena setiap benih kebaikan yang kita tanam hari ini akan menjadi peneduh bagi kita di masa depan.